Bismillah,
berikut ini adalah istilah-istilah singkat yang biasa digunakan oleh para penuntut ilmu syar’i :
…
Afwan = maaf.
Tafadhdhol = silahkan (untuk umum
Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan)
Mumtaz : Hebat, Nilai sempurna, bagus banget
Na’am : iya
La adri = tidak tahu
Syukron : terima kasih Zadanallah ilman wa hirsha = smoga ALLAH
manambah kita ilmu & semangat Yassarallah/sahhalallah lanal khaira
haitsuma kunna = semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun
berada Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami &
kaum muslimin
Laqod sodaqta = dengan sebenarnya
Ittaqillaah haitsumma kunta = Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada
Allahul musta’an = hanya ALLAH-lah tempat kita minta tolong
Barakallah fikum = semoga ALLAH memberi kalian berkah
Wa iyyak = sama-sama
Wa anta kadzalik = begitu jg antum
Ayyul khidmah = ada yg bisa dibantu ?
Nas-alullaha asSalamah wal afiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan
Jazakumullah khayran = semoga ALLAH memmbalas kalian dengan lebih baik
Jazaakallahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (laki2) dengan lebih baik
Jazaakillahu khayran = semoga ALLAH memmbalasmu (perempuan) dengan lebih baik
Allahumma ajurny fi mushibaty wakhlufly khairan minha = ya ALLAH
berilah pahala pada musibahku dan gantikanlah dg yg lebih baik darinya.
Rahimakumullah = smoga ALLAH merahmati kalian
Hafizhanallah = semoga ALLAH menjaga kita
Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk/hidayah.
Allahu yahdik = semoga Allah memberimu petunjuk/hidayah
‘ala rohatik = ‘ala kaifik = tereserah anda…
(biasanya digunakan dalam percakapan bebas, atau lebih halusnya silahkan dikondisikan saja..)
ana = y = saya
anta = ka = kamu laki2
anti = ki = kamu prempuan
(maksudnya ==> kalau untuk kepada kamu laki2= kaifa haluka ? ; Kalau kepada kamu perempuan : kaifa haluki?)
antum = kum = kalian laki2
antunna = kunn = kalian prempuan
huwa = hu = dia laki2
hiya = ha = dia prempuan ===
maa dza ta’malu ? = apa yg sedang kamu kerjakan ?
maa dza ta’maluna ? = apa yg sedang kalian kerjakan ?
qoro’tu fiil madi = aku telah membaca
ahfadhuhaa mahlan mahlan = saya akan menghafalnya pelan-pelan
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﻣِﻦْ ﺃَﻳْﻦَ ﺃَﻧْﺖَ ﻗَﺎﺩِﻡ ﻳَﺎ ﺃَﺧِﻲ؟
Min aina anta qaadim, ya akhii? / Dari mana Anda berasal, wahai Saudaraku?
ﻣُﺤَﻤَّﺪ: ﺃَﻧَﺎ ﻗَﺎﺩِﻡ ﻣِﻦْ ﺟَﺎﻭَﻯ ﺍﻟﺸَّﺮْﻗِﻴَّﺔ
Anaa qaadim min Jaawaa asy-syarqiyyah / Saya berasal dari Jawa Timur
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﻫَﻞْ ﺃَﻧْﺖَ ﻃَﺎﻟِﺐ؟
Hal anta thaalib? / Apakah Anda seorang mahasiswa?
ﻣُﺤَﻤَّﺪ: ﻻَ ﺃَﻧَﺎ ﻣُﻮَﻇَّﻒ
Laa, anaa muwadhdhaf / Tidak, saya seorang karyawan
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﻜْﺘَﺒُﻚَ؟
Aina maktabuka? / Di mana kantormu?
ﻣُﺤَﻤَّﺪ: ﻣَﻜْﺘَﺒِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺎﺭِﻉ ﺳُﻮﺩِﺭْﻣَﺎﻥ
Maktabii fisy-syaari’ Sudirman / Kantorku di jalan Sudirman
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﺑِﻤَﺎﺫَﺍ ﺗَﺬْﻫَﺐ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘَﺐ؟
Bimaadzaa tadzhab ilal-maktab? / Dengan apa Anda pergi ke kantor
ﻣُﺤَﻤّﺪ: ﺃَﺫْﻫَﺐ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘَﺐ ﺑِﺎﻟﺴَّﻴَّﺎﺭَﺓ
Adzhab ilal-maktab bis-sayyaarah / Saya pergi ke kantor dengan mobil
Akalti : kamu sudah makan
ana ata’allamu = saya sedang belajar
nahnu nata’allamu = kami sedang belajar al idhofatu = sandaran
contoh :
———
kitaabun – Muhammad –> kitaabun Muhammadin = bukunya Muhammad –>
nah, ini dalam bahasa arab disebut : mudhoofun ilaih (mabniun alal
kasry) lagi.. baitun – mudarrisyun –> baitu mudarrisyin/baitul
mudarrisyi = rumah guru
nah..
TIPS:
bagaimana kalau berdiskusi dgn para ahlul bid’ah dan mereka tetap bersikeras kepada kebid’ahannya ?
Cukup tutup dengan kalimat,
“mau’iduna yaumal jana’iz!” = nantikanlah sampai kematian menjemput anda
Setelah itu, tinggalkan tempat kejadian perkara
selesai
___________________________________________
Afwan, berhubung ada yang bertanya tentang arti kalimat2 umum dan
sederhana dalam bahasa Arab yang sering di gunakan di group ini, maka
semoga artikel sederhana (terjemahan bebas) ini bermanfaat.
- ana = saya
- anta = ka = kamu laki2
- anti = ki = kamu prempuan
- antum = kum = kalian laki2
- antunna = kunn = kalian prempuan
- huwa = hu = dia laki2
- hiya = ha = dia perempuan
- ya akhi = wahai saudaraku (laki2)
- ya ukhti = wahai saudaraku (perempuan)
- Akhi fillah = saudaraku seiman (kepada Allah)
- Jazaakallahu khayran = smoga ALLAH memmbalasmu dengan kebaikan.
- Jazakumullah khayiran = smoga ALLAH memmbalas kalian dengan kebaikan
- Allahu yahdik = Semoga Allah memberimu petunjuk
- Rahimahullah = Semoga Allah merahmatinya
- Rahimakumullah = smoga ALLAH mrahmati kalian
- Hafizhanallah = smoga ALLAH menjaga kita
- Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk.
- Afwan = maaf
- ISTAGHFARA-YASTAGHFIRU (استغفر) = meminta ampun.
- Zadanallah ilman wa hirshan = Semoga ALLAH manambah kita ilmu & smangat
- Yassarallah / sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = Semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada
- Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin
- Allahul musta’an = hanya ALLAH lah tempat kita minta tolong
- Barakallahu fiik/kum = Semoga ALLAH memberi kalian berkah
- Wa iyyak/kum = sama2
- Wa anta kadzaalik = begitu jg antum
- Nas-alullaha assalamah wal aafiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan
dipersilahkan bagi yg mau menambahkan / mengkoreksi,
& kalo ada yg mau menambahkan dgn huruf hijaiyah itu lebih baik
jazakumullah khayran
ana aidon = aku juga
thoyyib = baik lah..
laa bahsa = ga papa
mafi musykila = ga masalah
sway-sway = dikit-dikit
_________________________________
kata ‘afwan dibeberapa ayat dengan beberapa makna yang saling berbeda. Antara lain:
Pertama, ( ولقد عفا الله عنهم) QS. Ali Imran : 155, maknanya maaf.
Kedua, (إلا أن يعفون أو يعفو الذي بيده عقدة النكاح) QS. Al-Baqarah : 237, maknanya meninggalkan.
Ketiga, (ثمّ بدّلنا مكان السيئة الحسنة حتى عفوا) QS. al-A’raf : 95, maknanya tambah banyak.
Keempat, (ويسألونك ما ذا ينفقون قل العفو) QS. al-Baqarah : 219, maknanya kelebihan dari harta.
Dari beberapa kata “afwan” yang ada dalam al-Quran tersebut, dapat kita tafsirkan makna dari kata “afwan”:
Menurut pengertian pertama, “maafkan saya atas kekurangan saya yang tidak mampu memberikan pelayanan lebih.”
Menurut pengertian kedua, “tinggalkan terimakasih tersebut, karena saya tak butuh terima kasih itu.”
Menurut pengertian ketiga, “diantara kita ada yang lebih banyak dari apa yang telah saya berikan.”
Menurut pengertian keempat, “apa yang telah saya berikan merupakan limpahan pemberian yang tidak berhak disyukuri.”
Wallahu a’lam.
penggunaan ‘afwan’ kalau dalam keseharian sama dengan ‘you welcome’
dlm bhs Inggris. juga sering digunakan sebagai permintaan maaf dalam
mengusulkan sesuatu, atau kalau tidak dapat memenuhi sesuatu. (dikedua
kesempatan ini kata ‘afwan’ digunakan commonly) Wallahu’aklam..

Nah, ngomong2 soal “wa iyyaka” atau “wa iyyakum”, kayaknya ada
artikel bagus nih, khusus membahas masalah ucapan “wa iyyaka” atau “wa
iyyakum”
———
Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak (dan kepadamu juga)”
atau “waiyyakum (dan kepada kalian juga)” ketika telah dido’akan atau
mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan
seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang
telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallah
khair atau barakalahu fiikum”?
Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut:
Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul
Quraa Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak”
(yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan
“Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas
kebaikanmu”). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan
perkataan ini setiap saat?
Beliau menjawab:
Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi
wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat
mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan
bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”
Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,”
setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka
telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk
agama).
Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad
hafizhahullah Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya
dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?
Beliau menjawab:
“tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu
khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan
sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai
athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna
“sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia
mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash,
tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”
Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya
mengucapkan, “Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat
baik kepada kita?
Beliau menjawab:
Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih
utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas
kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.
Menjawab dengan “Wafiika barakallah”.
Apabila ada seseorang yang telah mengucapkan do’a “Barakallahu fiikum
atau Barakallahu fiika” kepada kita, maka kita menjawabnya: “Wafiika
barakallah” (Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu) (lihat Ibnu
Sunni hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal.
304. Tahqiq Muhammad Uyun)
Menjawab dengan “jazakallahu khair”.
Ada satu hadits yang menjelaskan sunnahnya mengucapkan “jazakallahu
khairan”, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu
dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah
membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam
menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam
Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban:
3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani
dalam shahih Tirmidzi)
Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah:
- jazakallahu khairan (engkau, lelaki)
- jazakillahu khairan (engkau, perempuan)
- jazakumullahu khairan (kamu sekalian)
- jazahumullahu khairan (mereka)
Fatwa ulama seputar ucapan “jazakallah”:
Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
Sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan
“jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan
kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya.
Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu
alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi
dalam menyatakan rasa syukurnya.?
Beliau menjawab:
Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang
yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi
orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang
mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman
doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menambah dari
do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah
mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia
mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa
‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa
memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak
mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya
tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada
tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak
menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.
Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala
berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah
membalasmu dengan seribu kebaikan” ?
Beliau -hafidzahullah- menjawab:
“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu
itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti
ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan
mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat
umum.” (transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh
Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa
Ash-Shilah, nomor hadits: 222)
Kesimpulan:
Ucapan “Waiyyak” secara harfiah artinya “dan kepadamu juga”. Ini
adalah bentuk do’a `yang walaupun ulama kita tidak menemukan itu sebagai
sunnah. Dalam kasus manapun, namun tidak ada ulama yang melarang
berdo’a dengan selain ucapan “Jazakumullah khairan” dengan syarat tidak
boleh menganggapnya merupakan bagian dari sunnah. Namun untuk lebih
afdholnya kita ucapkan “jazakalla khair”, inilah sunnahnya.
Ada satu kaidah ushul fiqih yang dengan ini mudah-mudahan kita bisa
terhindar dari bid’ah dan kesalahan-kesalahan dalam beramal atau
beribadah.
Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu
sebelum berkata dan beramal”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang
beliau ambil dari firman Allah ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)!
Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan
mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).
Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai dengan ilmu sebelum
seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama
yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim,
akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya
kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat, kalau pada kalimat
syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan
lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian
mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang lain tanpa dasar
ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus mengetahui dengan benar
dalil-dalilnya.
Muraja’:
- sunniforum.com/forum/showthread.php?t=3105
- darussalaf.or.id/stories.php?id=1520
- Hisnul Muslim, Syaikh Said bin Ali Al Qathani
Bagaimana Ucapan yang sempurna dalam menjawab Jazakallohu khoiron..?
Oleh : Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah
Ucapan Ini Merupakan Amal Sholeh dan Amal Sholeh pun Akan Mengucapkannya
Ucapan ini bagi yang mengucapkannya adalah ibadah. Karena ucapan ini adalah sebuah doa dan doa itu adalah ibadah.
Adapun bagi yang menerimanya, ucapan ini adalah sebuah kalimat yang sangat baik.
Membuat wajah ingin tersenyum dan membahagiakan hati…
Ucapan ini lebih manis daripada “Syukron”…
Dan lebih bermanfaat daripada “terima kasih”…
Dan sangat tepat diucapkan oleh seseorang yang ingin menyampaikan kepada temannya bahwa ia tidak mampu membalas kebaikannya.
Ucapan yang dimaksud adalah:
“JAZAKALLOHU KHOIRON” [semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan_umum/laki laki].
atau “JAZAKILLAHU KHOIRON” [jika yang diberi ucapan adalah wanita].
Ucapan ini adalah amalan sholih karena ucapan ini merupakan sunnah
Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits Usamah bin
Zaid, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا؛ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاء
“Barang siapa yang diberi suatu kebaikan kepadanya, lalu ia
mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut: “Jazakallohu
khoiron”, maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan
rasa syukurnya.” [HR. at-Tirmidzi no. 1958, an-Nasa’i dalam as-Sunan
al-Kubro 6/53, dll. Dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullohu
ta’ala dalam Shohih at-Targhib wat Tarhib (969).
Dalam Faidhul Qodir (172/6) dijelaskan:
“telah mencukupi rasa syukurnya” maksudnya adalah hal tersebut karena
pengakuan terhadap kekurangannya, dan ketidakmampuan dalam membalas
kebaikannya, dan mempercayakan membalas kebaikannya pada Alloh agar ia
mendapatkan balasan yang sempurna.
Berkata al-allamah al-Utsaimin rohimahulloh dalam Syarah Riyadhus Sholihin :
“Hal itu dikarenakan jika Alloh membalas kebaikannya dengan kebaikan,
hal itu merupakan kebahagian baginya di dunia dan akhirat.”
CARA MENJAWABNYA
Dan yang utama dalam menjawab kalimat yang bagus ini adalah dengan
mengulang kalimat tersebut yakni membalasnya dengan mengatakan :
“WA ANTA FAJAZAKALLOHU KHOIRON” atau yang semisalnya.
Walaupun membalasnya dengan ucapan “WA IYYAKUM” dan yang semisalnya
adalah boleh-boleh saja, namun yang lebih afdhol adalah membalas dengan
mengulang lafadz doa tersebut.
Sebagaimana DIFATWAKAN oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafidzohulloh:
السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟
Pertanyaan :
...
Apakah ada dalil bahwa membalasnya (ucapan jazakallohu khoiron) adalah dengan ucapan “wa iyyakum”?
فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول

وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على
جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم
جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى
(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222)
Beliau menjawab :
“Tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “wa jazakallohu khoiron” (dan
semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan), yaitu didoakan
sebagaimana dia mendoakan, dan seandainya ia mengucapkan semisal “wa
iyyakum” sebagai athof (mengikuti) atas ucapan “Jazakum”, yakni ucapan
“wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, semoga kalian
juga”.
Akan tetapi jika ia membalasnya dengan ucapan “antum jazakumulloh
khoiron” dan mengucapkan dengan lafadz do’a tersebut, tidak diragukan
lagi bahwa ini lebih jelas dan lebih utama.” [*] –selesai nukilan fatwa
Syaikh Abdul Muhsin hafidzohulloh -
[*] Di transkrip dari kaset Durus Syarh Sunan at-Tirmidzi, kitab
al-Birr wash Shilah no. 222, oleh ustadz Abu Karimah hafidzohulloh.
Sumber:
http://ibnulqoyyim.com/content/view/36/9/, dengan perubahan dalam terjemahannya.
Dan dalil apa yang difatwakan Syaikh Abdul Muhsin di atas adalah sebagaimana dalam hadits berikut :
Dari Anas bin Malik rodhiyallohu anhu ia berkata:
Usaid bin al-Hudhoir an-Naqib al-Asyhali datang kepada Rosululloh
shollallohu alaihi wa sallam, maka ia bercerita kepada Rosululloh
shollallohu alaihi wa sallam tentang sebuah keluarga dari Bani Zhofar
yang kebanyakannya adalah wanita, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa
sallam membagi kepada mereka sesuatu, membaginya di antara mereka, lalu
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam berkata :
تركتَنا -يا أسيد!- حتى ذهب ما في أيدينا، فإذا سمعتَ بطعام قد أتاني؛
فأتني فاذكر لي أهل ذلك البيت، أو اذكر لي ذاك. فمكث ما شاء الله، ثم أتى
رسولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طعامٌ مِن خيبر: شعيرٌ وتمرٌ،
فقسَم النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في الناس، قال: ثم قسم في
الأنصار فأجزل، قال: ثم قسم في أهل ذلك البيت فأجزل، فقال له أسيد شاكرًا
له: جزاكَ اللهُ -أيْ رسولَ الله!- أطيبَ الجزاء -أو: خيرًا؛ يشك عاصم- قال
: فقال له النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وأنتم معشرَ الأنصار!
فجزاكم الله خيرًا- أو: أطيب الجزاء-، فإنكم – ما علمتُ- أَعِفَّةٌ صُبُرٌ
“Engkau meninggalkan kami wahai Usaid, sampai habis apa-apa yang ada
pada kami, jika engkau mendengar makanan mendatangiku, maka datangilah
aku dan ingatkan padaku tentang keluarga itu atau ingatkan padaku hal
itu.”
Maka setelah beberapa saat, datang kepada Rosululloh shollallohu
alaihi wa sallam makanan dari khoibar berupa gandum dan kurma, maka Nabi
shollallohu alaihi wa sallam membaginya kepada manusia.
Ia berkata:
kemudian beliau membaginya kepada kaum Anshor lalu makanan itupun
menjadi banyak, lalu ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada
keluarga tersebut lalu makanan itupun menjadi banyak.
Lalu Usaid pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Nabi:
“Jazakallohu athyabal jaza’ –atau khoiron- (Semoga Alloh membalasmu
-yaitu kepada Rosululloh- dengan sebaik-baik balasan –atau kebaikan),
Ashim (perawi hadits, pent) ragu-ragu dalam lafadznya,
lalu ia berkata : Nabi shollallohu alaihi wa sallam kemudian membalasnya :
“wa antum ma’syarol Anshor, fa jazakumullohu khoiron –atau athyabal
jaza’- (dan Kalian wahai sekalian kaum Anshor, semoga Alloh membalas
kalian dengan kebaikan –atau sebaik-baik balasan), sesungguhnya setahuku
kalian adalah orang-orang yang sangat menjaga kehormatan lagi penyabar”
[HR. an-Nasa’i no. 8345, ath-Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir no. 567,
Ibnu Hibban no. 7400 & 7402, Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya
no. 908, dll. Dishohihkan syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3096]
Begitu pula terdapat contoh atsar para salaf yang mengamalkan ucapan ini.
Imam Bukhori rohimahulloh meriwayatkan dalam al-Adabul mufrod dengan
sanadnya dari Abu Murroh, maula Ummu Hani’ putri Abu Tholib:
:أنه ركِبَ مع أبي هُريرة إلى أرضِه بالعقيق، فإذا دَخَلَ أرْضَهُ صَاح
بأعلى صوتِه : عليكِ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه يا أُمتاه! تقول
وعليكَ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، يقول: رحمكِ اللهُ؛ ربَّيْتِني صغيرًا
فتقول: يا بُنيّ! وأنتَ فجزاكَ اللهُ خيرًا، ورضي عنك؛ كما بَرَرْتَني كبيرًا
Bahwasanya ia berkendara bersama Abu Huroiroh ke kampung halamannya di ‘Aqiiq.
Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya: “Alaikissalam warohmatullohi wabarokatuh wahai ibuku.”
Lalu ibunya berkata :” wa’alaikassalam warohmatullohi wabarokatuh.”
Ia berkata (bersyukur kepada ibunya, pent) : “Rohimakillah (semoga Alloh
merahmatimu wahai ibu), engkau telah merawatku ketika aku masih kecil.”
Maka ibunya berkata : “Wahai anakku wa anta fajazakallohu khoiron,
semoga Alloh meridhoimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat
engkau sudah besar.”
[HR. al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 15, syaikh al-Albani
rohimahulloh berkata: “sanadnya hasan” dalam shohih al-Adabul Mufrod no.
11]
Dalam Thobaqot al-Hanabilah diriwayatkan:
أنبأنا المبارك عن أبي إسحاق البرمكي حدثنا محمد بن إسماعيل الوراق
حدثنا علي بن محمد قال: حدثني أحمد بن محمد بن مهران حدثنا أحمد بن عصمة
النيسابوري حدثنا سلمة بن شبيب قال: عزمت على النقلة إلى مكة فبعت داري
فلما فرغتها وسلمتها وقفت على بابها فقلت: يا أهل الدار جاورناكم فأحسنتم
جوارنا جزاكم الله خيراً وقد بعنا الدار ونحن على النقلة إلى مكة وعليكم
السلام ورحمة الله وبركاته قال: فأجابني من الدار مجيب فقال: وأنتم فجزاكم
الله خيرا ما رأينا منكم إلا خيرا ونحن على النقلة أيضاً فإن الذي اشترى
منكم الدار رافضي يشتم أبا بكر وعمر والصحابة رضي الله عنهم.
Dari Salamah bin Syabib[**], ia berkata :
aku ingin pindah ke Mekkah, lalu akupun menjual rumahku. Ketika
urusannya selesai aku pamit kepada tetanggaku dan mengucapkan salam
sambil berdiri di depan pintu rumahnya, aku berkata: “Wahai tetanggaku,
kami telah hidup bertetangga dengan kalian dan kalianpun telah berbuat
baik dalam bertetangga dengan kami, jazakumulloh khoiron, aku telah
menjual rumah kami dan kami akan pindah ke Mekkah, wa’alaikumussalam
warohmatulloh wa barokatuh.”
Lalu seseorang dari rumah itu menjawab:
“wa antum fajazakumulloh khoiron, tidaklah kami melihat pada kalian
melainkan kebaikan, tapi kami mau pindah juga karena ternyata yang
membeli rumah kalian adalah seorang Rofidhoh (syi’ah) yang mencela Abu
Bakr, Umar dan pada shahabat rodhiyallohu anhum.”
[Thobaqot al-Hanabilah 1/65, Maktabah Syamilah]
[**] Salamah bin Syabib (W. 246 H) adalah seorang ulama salaf perowi
hadits yang sezaman dengan imam Ahmad bin Hambal, adz-Dzahabi berkata
tentang Salamah bin Syabib: “al-Hafidz, Hujjah”.
DAN AMAL SHOLEH PUN MENGUCAPKANNYA
Hal ini terjadi di alam kubur, sebagaimana dalam sebuah hadits yang
panjang yang diriwayatkan al-Barro’ bin Azib rodhiyallohu anhu, bahwa
setelah seorang hamba yang beriman diuji (dengan pertanyaan dalam kubur,
pent) dan ditetapkan dalam menjawab ujian:
يَأْتِيهِ آتٍ حَسَنُ الْوَجْهِ طَيِّبُ الرِّيحِ حَسَنُ الثِّيَابِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِكَرَامَةٍ مِنَ اللهِ وَنَعِيمٍ مُقِيمٍ؛
فَيَقُولُ: وَأَنْتَ؛ فَبَشَّرَكَ اللهُ بِخَيْرٍ، مَنْ أَنْتَ؟
فَيَقُولُ: ”أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتَ –وَاللهِ!- سَرِيعًا فِي
طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ؛ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا.
:ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنَ الْجَنَّةِ وَبَابٌ مِنَ النَّارِ فَيُقَالُ
…هَذَا كَانَ مَنْزِلَكَ لَوْ عَصَيْتَ اللهَ، أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ هَذَا
Datanglah seseorang dengan wajah yang baik, berbau wangi dan memakai
baju yang bagus, lalu orang tersebut berkata: “Bergembiralah dengan
kemuliaan dari Alloh dan kenikmatan yang abadi”, maka hamba yang beriman
tersebut bertanya: “Wa anta fa basyarokallohu bi khoirin (dan semoga
Alloh juga memberimu kabar gembira berupa kebaikan), siapakah anda?”
lalu orang itu menjawab : “aku adalah amal sholehmu, engkau dahulu –demi
Alloh- sangat cepat dalam ta’at kepada Alloh sangat lambat (menjauhi,
pent) dalam maksiat kepada Alloh, fa jazakallohu khoiron”.
Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu
neraka, lalu dikatakan: “Ini (neraka) adalah tempatmu seandainya engkau
bermaksiat kepada Alloh, dan Alloh telah menggantikan untukmu dengan
yang ini (surga)…”
[HR. Ahmad no. 17872, Abdurrozzaq dalam Mushonnaf-nya no. 6736,dll. Dishohihkan syaikh al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hal.158]
Maka beruntunglah seorang hamba yang diberi taufik dalam kehidupan
dunianya terhadap ucapan yang baik ini, baik ia mengucapkannya maupun ia
menerimanya. Dan di akhiratnya ia mendapat kabar gembira dengan ucapan
ini oleh amal sholehnya. Seandainya bukan karena keutamaan dan rahmat
Alloh maka ia tidak mampu beramal sholeh.
Subhanalloh…
Alloh Yang Maha Memberi Nikmat, memberikan nikmat berupa taufik kepada
hamba-Nya untuk beramal sholeh, kemudian memberi nikmat lagi berupa
menjadikan amal sholehnya memuji hamba tersebut…
Subhanalloh…
hadits yang mulia ini juga mengingatkan kita untuk cepat dalam ta’at kepada Alloh dan menjauhi maksiat…
Semoga Alloh ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mampu mengamalkan sifat yang mulia ini…
Maroji’ :
# Artikel “Hiya Amalun Sholih wa yaquluha al-Amal ash-Sholih” yang
ditulis oleh salah seorang putri syaikh al-Albani, yaitu Sukainah bintu
Muhammad Nashiruddin al-Albaniyyah hafidzohalloh dalam blog beliau
[tamammennah.blogspot.com], dan tulisan ini banyak mengambil faidah dari
sana –fa jazahallohu khoiron-.
# Transkrip Fatwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad oleh ustadz Abu Karimah Askari hafidzohulloh di
http://ibnulqoyyim.com/content/view/36/9/
# Al-Maktabah asy-Syamilah v3, dan penomoran hadits & atsar merujuk kepada software ini.
Sumber :
http://abu-rabbani.blogspot.com/2009/08/kekeliruan-dalam-mengucapkan-kata.html
Jika ada yang mengucapkan “Ana uhibbuka fillah”, maka jawabnya adalah
“ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu” (Semoga Allah mencintai kamu yang
cinta kepadaku karenaNya) [HASAN. HR.Abu Daud 4/333, Syaikh Albani
menghasankannya dalam Shahih Sunan Abu Daud 3/965].
Disadur dari : group FB jalan yang lurus
[http://www.facebook.com/syiar.sunnah/posts/227897897244446?ref=notif¬if_t=feed_comment#!/groups/178870065487878?view=doc&id=218137768227774]
Ana CoPas dari :
http://jihadsabili.wordpress.com/2011/07/11/kumpulan-bahasa-arab-yang-kerap-dipakai/